Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) adalah burung nasional Indonesia karena kemiripannya dengan Garuda dan juga merupakan simbol jenis satwa langka di Indonesia. Elang Jawa hanya terdapat di Pulau Jawa dan penyebarannya terbatas di hutan-hutan. Sebagai predator puncak, Elang Jawa memainkan peran yang penting dalam menjaga keseimbangan dan fungsi dari bioma hutan di Jawa. Elang Jawa merupakan salah satu jenis burung pemangsa terlangka di dunia. Berdasarkan kriteria keterancaman terbaru dari IUCN, Elang Jawa dimasukan dalam kategori Endangered atau “Genting” (Collar et al., 1994, Shannaz et al., 1995).
Berdasarkan hasil survai terdahulu, diyakini bahwa pola penyebaran Elang Jawa terputus, di mana terdapat populasi yang tersiolasi di Jawa Barat dan Jawa Timur. Pada tahun 1994 penulis melakukan survai di kawasan pegunungan Jawa Tengah untuk meneliti apakah tidak adanya catatan tentang Elang Jawa di kawasan ini disebabkan oleh kurangnya survai. Survai yang dilakukan penulis merupakan kerjasama antara Universitas Amsterdam dan LIPI dengan dibantu oleh PHPA/BirdLife International-Indonesia Programme. Selama survai selain dikumpulkan data mengenai distribusi dan konservasi Elang Jawa, juga dikumpulkan data distribusi dan konservasi jenis-jenis burung endemik Jawa lainnya.
Jawa Tengah memiliki iklim transisi dari hutan hujan selalu-basah (everwet tropical rainforest) yang terdapat di Jawa Barat dengan hutan musim (deciduous monsoon forest) di Jawa Timur. Jawa Tengah memiliki pola penyebaran flora dan fauna lokal yang sangat menarik. Beberapa jenis burung dan mammalia yang tersebar luas di daratan Asia memiliki batas akhir penyebaran di Jawa Tengah, dan hal ini juga berlaku bagi beberapa jenis hidupan liar endemik Jawa. Jawa Tengah secara relatif juga memiliki jumlah taksa endemik yang cukup tinggi. Ekosistem hutan hujan dataran rendah Jawa Tengah sangat menarik terutama karena ekosistem tersebut dianggap sebagai ekosistem daratan (terestrial) paling beraneka ragam di dunia. Dalam beberapa dekade terakhir ini, hutan di Jawa Tengah mengalami tekanan yang berat. Di Jawa Tengah hanya 1% dari hutan hujan dataran rendah yang masih tersisa (UNDP/FAO, 1982). Daerah di mana hutan dataran rendah sampai pegunungan masih terdapat, merupakan daerah yang secara biologis sangat penting dan merupakan tempat berdiam bagi beragam jenis hidupan liar.
Survai ini masih menemukan sisa-sisa populasi Elang Jawa di Jawa Tengah (Sözer & Nijman, 1995). Memorandum Teknis ini bertujuan untuk melaporkan pokok-pokok hasil survai tersebut dan memaparkan pentingnya penetapan kawasan konservasi di Jawa Tengah, baik sebagai tempat perlindungan bagi populasi Elang Jawa maupun sebagai upaya untuk menjamin lestarinya fauna dan flora hutan transisi antara wilayah biogeografi sub-regional Jawa Barat dan Jawa Timur.
salah satu tempat habitat elang jawa adalah di gunung ungaran medini sampai promasan semarang rang jawa tengah. sur vei yang di lakukan pelatuk bsc biologi unnes sampai sekarang terlihat 2-3 ekor elang jawa tahun 2008.
salam lestari
